okasi: Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Foto ini diambil pada 28 September 2018, pasca bencana gempa dan tsunami.

Penjelasan Kejadian Pada pukul 17.02 WIB, gempa bumi tektonik berkekuatan 7,5 Skala Richter mengguncang wilayah ini, dengan pusat gempa di laut, sekitar 26 km sebelah utara Donggala, kedalaman hanya 10…

Penjelasan Kejadian

Pada pukul 17.02 WIB, gempa bumi tektonik berkekuatan 7,5 Skala Richter mengguncang wilayah ini, dengan pusat gempa di laut, sekitar 26 km sebelah utara Donggala, kedalaman hanya 10 km. Gempa ini langsung memicu gelombang tsunami setinggi 4–7 meter yang menerjang pesisir pantai Palu, termasuk kawasan Talise dan Pantoloan, serta wilayah Donggala.

Selain tsunami, gempa juga menyebabkan fenomena likuefaksi — tanah berubah menjadi cairan akibat guncangan — yang membuat pemukiman di beberapa lokasi terbenam, bergeser, atau hancur total. Lebih dari 4.000 orang meninggal, ribuan bangunan rusak, dan puluhan ribu warga mengungsi.

Penyebab Utama

  1. Pergerakan Lempeng Bumi: Terjadi pergeseran pada Patahan Palu-Koro, garis patahan aktif yang memanjang dari utara ke selatan Sulawesi. Gerakan ini tipe mendatar (satu blok tanah bergeser sejajar dengan patahan), namun karena terjadi di dekat dan di bawah laut, pergeseran dasar laut mendadak mendorong massa air dan menciptakan gelombang tsunami.
  2. Bentuk Teluk Palu: Bentuk teluk yang sempit dan memanjang berfungsi seperti corong, memperbesar ketinggian gelombang saat masuk ke daratan, sehingga dampaknya jauh lebih dahsyat.
  3. Struktur Tanah: Banyak wilayah di Palu berupa tanah lunak dan endapan sungai, yang sangat rentan mengalami likuefaksi saat diguncang kuat.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *